Sponsors

09 Oktober 2015

Ketika Muslimah Keluar Rumah untuk “Dakwah”

Seorang wanita ketika benar ia telah mendapat hidayah dan berubah menjadi salah seorang “akhawat muslimah”, maka yang mesti menjadi obsesinya adalah berdiam di rumahnya, belajar untuk menjadi wanita sejati yang profesional dalam rumahnya (bukan justru lebih hebat di luar) serta melayani dan mengurus suami dan anak-anaknya jika ia sudah menikah sebagai wujud ibadah dan kepatuhannya kepada perintah Allah Ta’ala.

Tapi sebuah fakta yang sangat aneh di zaman ini dari banyak pergerakan Islam, hampir tidak ada perbedaan antara wanita yang awam dengan wanita yang “telah mendapatkan hidayah” itu. Kecuali sedikit saja “perbedaan” dalam pemahaman dan gaya berpakaian saat keluar rumah.

Wanita “yang telah mendapatkan hidayah” itu justru lebih semangat keluar rumah, sangat aktif di luar rumah dan rela menyibukkan diri mengurus orang lain –dan anehnya- dengan anggapan dan keyakinan bahwa itu adalah sebuah “pengorbanan” yang mengatasnamakan Allah, Islam dan dakwah (?!).

Sebagian suami “yang tertipu” bahkan berbangga dengan aktivitas istrinya itu dan mendorong orang lain melakukannya –juga katanya- untuk kebaikan Islam dan dakwah.

Kalau benar mereka taat kepada aturan Allah, maka Allah telah menyuruh wanita untuk berdiam di rumah. Bagaimana bisa kemudian ada “pemikiran” atau “dalih” yang lebih baik dari perintah Allah dan –hebatnya lagi- mengatasnamakan agama Allah.

Berdiam di rumah adalah sebuah ibadah agung bagi seorang wanita, karena Allah telah memerintahkan hal itu dalam Kitab Suci-Nya. Sementara pemikiran sebagian orang, entah dia seorang ustadz atau siapapun, adalah sekedar pemikiran yang tidak bisa dibenturkan dengan dalil.

Allah Ta’ala berfirman,

وقَرْنَ فى بُيُوْتِكُنَّ وَلا تَبَرّجْنَ تَبَرّجَ الجَاهِلِيّةِ الأوْلىَ

Dan berdiamlah kamu di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (QS. Al-Ahzab ayat 33).

Benar apa yang dikatakan Syaikh Al-Albani rahimahullahu, “Karena kaum lelaki tidak menunaikan kewajibannya, hingga akhirnya medan perjuangan itu kosong, dan kemudian dibayangkan pada sebagian wanita bahwa tidak boleh tidak, kita mesti mengisi kekosongan tersebut”. (Az Zawâj fi al Islâm).

Ya, “kehebatan” banyak aktivis “dakwah” wanita di zaman ini justru semakin melemahkan kaum laki-laki. Di banyak pergerakan, kaum wanitalah yang justru lebih dominan, dan terkesan para lelaki itu bergantung kepada wanita dalam urusan jumlah pengikut dakwah mereka.


Dakwah adalah kewajiban setiap muslim, laki-laki maupun wanita. Tapi secara sengaja mengorganisir atau memobilisasi kaum wanita untuk keluar rumah atas nama dakwah (baca : lembaga/organisasi) adalah bid’ah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para Salaf radhiyallahu ‘anhum.


Jangan tertipu dengan “manfaat” tersebarnya dakwah dan terselamatkannya banyak wanita dengan dakwah tersebut yang sering mereka dengungkan, karena mendatangkan manfaat tidak dengan cara yang bertentangan dengan aturan Allah Ta’ala dan petunjuk rasul-Nya.

Terimalah kebenaran, walaupun pahit terasa.

Wallahul musta’an.

0 tanggapan:

Posting Komentar